Tag: Ismail Haji Ahmad

  • Mengenang Al Attas dan Rihlah Ilmiah UIN Bukittinggi

    Mengenang Al Attas dan Rihlah Ilmiah UIN Bukittinggi

    Dr. Irwandi Nashir
    Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

    RRI.CO.ID, Bukittinggi – , Dunia intelektual Islam hari ini kehilangan salah seorang mujahid intelektual terbaiknya. Wafatnya Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas (SMNA) pada 8 Maret 2026 bukan sekadar berita duka yang mengisi kolom obituari media massa.

    Kepergian sosok ini adalah penanda purnanya sebuah era di mana ilmu pengetahuan diletakkan dengan takzim di atas singgasana martabat dan adab.

    Al-Attas bukan hanya seorang pemikir; ia adalah sang “arsitek peradaban” yang menghabiskan sisa usianya untuk melawan arus mekanisasi pendidikan melalui institusi legendaris yang ia rupa dengan penuh cinta: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC).

    Bagi mereka yang pernah menjejakkan kaki di kompleks ISTAC yang bertahta di Bukit Tunku, Kuala Lumpur, institusi ini bukanlah sekadar kampus pascasarjana. Ia adalah manifestasi fisik dari pemikiran Al-Attas tentang keagungan Islam.

    Dengan gaya arsitektur yang memadukan keanggunan Andalusia dan kewibawaan Utsmaniyyah, ISTAC dibangun sebagai “buku teks yang hidup” (living textbook).

    Setiap sudutnya—mulai dari tiang-tiang marmer yang tegak membisu, pemilihan jenis kayu pada rak perpustakaan, hingga desain dewan kuliah yang memungkinkan suara terdengar jernih tanpa pengeras suara—mencerminkan ketelitian seorang jenius yang percaya bahwa keindahan visual adalah pintu masuk yang suci menuju kebenaran intelektual.

    Namun, di balik kemegahan fisiknya, ISTAC menyimpan sebuah “tragedi intelektual” yang sering disebut oleh para muridnya sebagai penguburan hidup-hidup sebuah visi besar. Pada masa keemasannya di era 90-an, ISTAC adalah pusat gravitasi bagi sarjana Barat dan Timur.

    Al-Attas diberikan mandat penuh untuk membangun sebuah institusi mandiri yang tidak terikat oleh belenggu birokrasi kaku.

    Di sini, ilmu tidak diukur dengan angka-angka Indikator Kinerja Utama (KPI) atau sekadar tumpukan jam kredit. Ilmu diukur melalui kualitas karakter, penguasaan bahasa sumber—baik Arab, Yunani, maupun Latin—serta hubungan spiritual yang erat antara guru dan murid (master-disciple).

    Tragedi itu memuncak pada tahun 2002, ketika pisau kebijakan pemerintah melucuti otonomi ISTAC dan menyerapnya ke dalam struktur birokrasi universitas arus utama. Bagi Al-Attas, ini adalah lonceng kematian bagi visi “Insan Kamil” yang ia perjuangkan. Ilmu pengetahuan yang semula dianggap sebagai “ruh” berubah menjadi sekadar komoditas pasar.

    Sang profesor, yang membina setiap inci institusi itu dengan keringat dan gagasannya, akhirnya terasing dari ciptaannya sendiri.

    Rihlah Akademik Delegasi UIN Bukittinggi

    Kepergiannya baru-baru ini seolah menjadi penutup dari bab panjang perjuangan seorang intelektual yang enggan tunduk pada pragmatisme zaman.

    Dalam konteks inilah, ingatan kita ditarik kembali pada sebuah catatan peristiwa penting untuk program mobilitas akademik dosen dan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi.

    Pada Februari 2024, hanya dua tahun sebelum kepulangan sang profesor, Rektor UIN Bukittinggi kala itu Prof. Dr. Ridha Ahida mengutus delegasi dosen dan mahasiswa dari UIN Bukittinggi untuk melakukan sebuah “rihlah ilmiah” ke ISTAC.

    Rombongan yang terdiri dari Prof. Dr. Silfia Hanani (sekarang Rektor UIN Bukittinggi), Prof. Dr. Iiz Izmuddin, Dr. Arman Husni, Dr. Saiful Amin, dan penulis sendiri (Dr.Irwandi Nashir), melintasi batas negara demi menjemput mutiara pemikiran.

    Delegasi ini juga didampingi oleh Presiden Persatuan Cendekiawan Minang Malaysia (PCMM) Dato’ Ismail, dan juru bicara PCMM, Pak Sam Dimano.

    Perjalanan dari kaki Gunung Marapi menuju Bukit Tunku ini kini terasa sebagai sebuah ziarah makna yang krusial, sebuah kontak langsung terakhir bagi dosen dan generasi muda Bukittinggi dengan sisa-sisa kejayaan visi Al-Attas.

    Rihlah tersebut bukan sekadar kunjungan akademik. Bagi mahasiswa UIN Bukittinggi, menjejakkan kaki di ISTAC adalah upaya menyambung kembali “sanad” pemikiran. Bukittinggi, dengan latar belakang sejarah intelektualnya yang kuat melalui tokoh seperti Sjech Muhammad Djamil Djambek, memiliki frekuensi yang sama dengan apa yang diperjuangkan Al-Attas: yakni perlawanan terhadap kejumudan dan upaya melakukan sintesis yang cerdas antara tradisi dan modernitas.

    Mahasiswa diajak melihat bahwa menjadi modern tidak berarti harus mencampakkan identitas, dan menjadi berilmu berarti harus menjadi beradab.

    Saat menyusuri Perpustakaan SMNA yang menyimpan manuskrip-manuskrip nadir koleksi Al-Attas, para mahasiswa menyaksikan bagaimana ilmu dirawat dengan penuh cinta.

    Mereka belajar bahwa di tangan Al-Attas, Islamisasi ilmu bukan sekadar label, melainkan sebuah dekolonisasi pikiran untuk membersihkan pengaruh-pengaruh sekuler yang merusak tatanan nilai.

    Pengalaman berdiri di dewan kuliah yang sunyi namun berwibawa itu menanamkan kesadaran bahwa mereka sedang berada di benteng terakhir pertahanan intelektualisme Islam di Asia Tenggara.

    Kini, sang pencerah telah tiada. Meskipun ISTAC saat ini mungkin hanya dipandang oleh masyarakat awam sebagai bangunan megah yang sunyi, bagi mereka yang pernah mencicipi “hidangan” pemikirannya, ISTAC tetaplah kiblat intelektual. Jejak langkah dosen dan mahasiswa UIN Bukittinggi pada Februari 2024 semoga menjadi bukti bahwa cahaya pemikiran Al-Attas telah berpindah tangan.

    Esai ini adalah penghormatan kecil untuk seorang tokoh yang pergi dengan penuh martabat. Prof. Al-Attas mungkin telah meninggalkan kita secara jasmani, namun visi yang ia tanamkan di Bukit Tunku akan terus bergema dalam setiap diskusi di ruang-ruang kelas di Bukittinggi dan di seluruh dunia Islam.

    Kita tidak hanya berduka atas kepergian seorang manusia, melainkan kita merayakan sebuah warisan pemikiran yang akan terus menantang kita untuk menjadi manusia yang beradab di tengah dunia yang kian kehilangan ruhnya.

    Selamat jalan, Tan Sri Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Cahaya dari Bukit Tunku itu akan tetap menyala di hati para pencari kebenaran.()

  • PCMM Satukan Orang Minang di Malaysia Lewat Semangat Akademis

    PCMM Satukan Orang Minang di Malaysia Lewat Semangat Akademis

    Yose Hendra

    Langgam.id – Di tengah kehidupan perantauan yang dinamis, orang Minangkabau di Malaysia menemukan ruang untuk berkumpul, berdiskusi, dan merawat identitas intelektual mereka. Ruang itu bernama Persatuan Cendiakawan Minang Malaysia (PCMM), sebuah organisasi yang lahir dari semangat menyatukan diaspora Minangkabau dengan landasan akademis dan kebudayaan.

    Organisasi ini dipimpin oleh Ismail Haji Ahmad, seorang tokoh Minang berusia 70 tahun yang lahir di Koto Tinggi Johor, Negeri Sembilan. Meski lahir di Malaysia, ia memiliki akar kuat di Payakumbuh dari garis keluarganya.

    Menurut Ismail, PCMM telah berdiri selama 11 tahun sejak resmi berdiri pada 2015, meski gagasan dan gerakannya sudah dimulai sejak 2012.

    “Tujuan utama PCMM adalah menyatukan perantau Minang di Malaysia, termasuk orang Minang yang baru datang ke sini. Sebelumnya organisasi Minang lebih bersifat kedaerahan, misalnya Persatuan Minang Johor. Belum ada yang menyatukan secara lebih luas,” kata Ismail, saat ditemui disela pertemuan anggota PCMM di Bandar Ainsdale, Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia, Kamis (6/3/2026).

    Ia menjelaskan, pembentukan organisasi ini juga berkaitan dengan aturan organisasi di Malaysia. Dalam sistem hukum setempat, kelompok masyarakat yang ingin berkumpul secara resmi harus memiliki badan organisasi yang terdaftar.

    Karena itu, PCMM hadir sebagai wadah resmi yang memungkinkan orang Minang di Malaysia berkumpul, bersilaturahmi, dan berdiskusi tanpa hambatan administratif.

    Wakil Ketua PCMM yang juga menjabat Ketua Penerangan, Syaftin Ruli, mengatakan keberadaan organisasi ini penting bagi para perantau Minang yang datang ke Malaysia.

    “Dengan adanya organisasi cendekiawan ini, orang Minang yang datang ke sini bisa bersatu dan berkumpul. Kalau lebih dari lima orang berkumpul, biasanya harus ada izin polisi. Dengan adanya persatuan yang sudah terdaftar, kita bisa menampung saudara-saudara Minang yang datang dari mana pun,” ujarnya.

    Ia menambahkan, sebelum PCMM berdiri, para pendatang Minang di Malaysia sering hanya menjadi anggota asosiasi tertentu tanpa status organisasi yang diakui secara resmi.

    “Sebagai pendatang, kita hanya menjadi ahli bersekutu. Artinya kita terdaftar sebagai anggota, tetapi tidak memiliki organisasi yang terdaftar di pemerintahan. Karena itu kita merasa perlu membentuk persatuan seperti PCMM,” katanya.

    Selain memperkuat silaturahmi, PCMM juga menjadi ruang bertukar gagasan antara masyarakat Minang di Malaysia dan Indonesia. Diskusi tentang adat, budaya, dan persoalan sosial menjadi bagian penting dari aktivitas organisasi ini.

    “Melalui PCMM, orang tempatan dan orang yang datang dari Indonesia bisa bertemu, bersilaturahmi, bertukar pikiran, bahkan memberi kontribusi bagi masyarakat di dua negara,” kata Ismail.

    Ia sendiri telah tinggal di Malaysia sejak 1997 dan melihat kedekatan budaya antara masyarakat Minangkabau di Indonesia dan Malaysia.

    “Ketika saya datang ke Malaysia, saya merasakan tidak ada perbedaan yang jauh. Begitu juga orang Malaysia ketika datang ke Indonesia,” ujarnya.

    Kini PCMM menjadi organisasi Minangkabau pertama di Malaysia yang berskala nasional. Anggotanya sekitar 70 orang yang terdiri dari warga Malaysia maupun Indonesia. Di Malaysia sendiri, jumlah masyarakat keturunan Minang diperkirakan mencapai sekitar satu juta orang.

    Sebagai organisasi cendekiawan, PCMM juga memiliki Biro Akademik dan Intelektual yang diisi oleh dosen, peneliti, serta mahasiswa. Berbagai kegiatan akademik rutin digelar, mulai dari seminar, diskusi ilmiah, hingga sidang pleno pemikiran.

    Sejak 2016, PCMM juga aktif menjembatani kerja sama akademik antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia. Salah satunya dengan UIN Syekh Jamil Jambek Bukittinggi dan Universiti Islam Selangor dalam program pertukaran dosen dan mahasiswa selama tiga bulan.

    Selain itu, PCMM juga menjalin komunikasi akademik dengan sejumlah kampus di Sumatera Barat seperti Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, dan Universitas Bung Hatta.

    “Kita bukan partai politik. PCMM adalah think tank, tempat para pemikir Minang berkumpul dan berdiskusi,” kata Ismail.

    Ke depan, organisasi ini bahkan tengah menyiapkan agenda besar berskala internasional. Sekretaris Jenderal PCMM, Khalid Kamil, mengatakan pihaknya tengah merancang pertemuan diaspora Minang dunia.

    “Pada Juni tahun ini, selepas Idul Adha, kami merencanakan Minang International Gathering. Konsepnya kegiatan akademik, seminar antarbangsa Minang, program keagamaan, serta menghimpun dai Minang dari berbagai negara,” ujarnya.

    Dalam kegiatan tersebut juga akan digelar “Baralek Gadang”, sebuah pertemuan besar diaspora Minang dunia. Acara itu dirancang tidak hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga perayaan budaya.

    “Kita ingin mengumpulkan diaspora Minang sedunia. Akan ada pameran, simposium, kuliner Minang, budaya, hingga booth wirausaha,” kata Khalid.

    Rencananya kegiatan ini akan digelar di World Trade Centre Kuala Lumpur, dengan upaya kolaborasi bersama Kementerian Agama Malaysia serta Kementerian Pelancongan Malaysia.

    PCMM juga berencana menggelar acara “Minangkabau Gala Dinner” yang akan menghadirkan tokoh-tokoh Minang dari berbagai negara.

    “Kita ingin menghadirkan pemimpin besar masyarakat Minang dari seluruh dunia, bahkan menjemput Perdana Menteri Malaysia untuk hadir dalam acara itu,” ujar Khalid.

    Bagi para perantau Minangkabau di Malaysia, PCMM bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang pertemuan gagasan, tempat identitas budaya dirawat, dan simpul yang menyatukan diaspora Minang dengan semangat intelektual di tanah rantau.